Aku mengenalnya satu tahun ini. Laki-laki yang mendayung perahu menuju ufuk barat mengejar mentari seakan enggan mengucapkan salam perpisahan kepadanya. Ia duduk di pinggir pantai dan memandang hamparan cakrawala yang membentang luas di hadapannya sambil menghitung garis warna yang melenggok genit di iris matanya. Semburat jingga memantulkan siluet tulang punggungnya yang melengkung karena sarat memanggul keranjang berisi penuh ikan-ikan segar setiap hari. Siluet yang bergaris tegas. Akh, tiada kata yang cukup untuk menggambarkan dirinya. Ada karisma yang terpancar kuat dari laki-laki itu
Agam namanya. Mungkin juga Muklis, Zainal atau nama-nama lain yang biasa diberikan pada laki-laki Aceh. Akh, apalah artinya sebuah nama. Lagian, memang tidak ada acara khusus dimana kami saling bertatap muka, bersalaman dan bertukar nama yang kemudian diikuti prosesi basa-basi atau bincang-bincang santai tentang riwayat hidup. Atau adakah? Mungkin ada satu dua kesempatan, hanya aku yang kehilangan ingatan. Dia tahu aku setia datang ke pantai itu dan aku tahu dia setia menantiku disana.
Kami tidak pernah berbicara, seingatku. Mungkin kata-kata adalah barang langka baginya. Mungkin masa-masa sulit akibat konflik yang berkepanjangan telah membungkam mulutnya dan menajiskan setiap huruf yang ingin ia rangkai. Sepertinya pesisir ini telah merekam setiap peristiwa penting dalam detik-detik hidupnya dan menyimpannya dengan aman di suatu tempat. Tidak perlu banyak kata untuk menjelaskan- hanya duduk diam, mendengarkan pasir berbisik dan membiarkan jagad raya menguakkan semua cerita tentang dirinya.
Betapa kita terlalu sering membuang-buang kata yang tidak perlu. Mengumbar janji yang kita tahu takkan bisa kita penuhi. Betapa sibuknya kita hingga tidak punya waktu untuk merenungi makna sebuah kata dan menikmati keindahannya. Melebur di dalamnya dalam sedikit keheningan. Hening.
Hari ini mungkin akan menjadi hari terakhirku di pantai ini. Ombak sedang pasang seakan turut merasakan kegelisahan yang bertamu di bilik-bilik benakku. Di tengah hiruk pikuk gerombolan pekerja sosial yang menikmati akhir pekan, alam pun bisa membaca gundah yang berkecamuk seolah hatiku terlihat transparan baginya.
Aku masih mencintai laki-laki itu. Laki-laki yang menantang laut dengan kesederhanaannya. Ketidaksempurnaannya melengkapiku. Mungkin absurd dan naive kedengarannya namun aku tahu kata-kata itu tidak sekedar secara acak kupetik dari kamus untuk memenuhi sebuah paragraf. Aku dan dia mencintai kata dan bersatu dalam kata walau banyak hal yang sulit diungkapkan dengan kata. Kadang saat ia memandang langit senja aku bertanya pada diri jika ia masih memikirkanku dan menantikan kedatanganku. Aku yang pernah melukis jiwanya dan bermain dalam pelangi mimpinya. Kadang aku berharap luka di hatinya terhapus dalam pekatnya malam di saat-saat hanya aroma kopi dan nikotin yang mendampingi kejenuhannya. Berapa banyak kali aku berharap bisa menyentuh dan membuatnya tersenyum lagi. Dan jika beruntung, membuatnya berbicara padaku.
Akh, berjuta-juta kata pun takkan bisa menyampaikan penyesalan yang ada.
Maaf, aku meninggalkanmu hari itu…
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment